Pembangunan ekonomi berkelanjutan di Kecamatan Tambora sangat bergantung pada identifikasi dan pengembangan komoditas unggulan yang memiliki potensi dampak pengganda (multiplier effect) tertinggi terhadap kesejahteraan masyarakat dan PDRB. Namun, penentuan prioritas investasi ini menghadapi tantangan kompleks, karena harus mempertimbangkan berbagai kriteria yang seringkali bertentangan, mulai dari potensi ekonomi, dampak sosial, hingga keberlanjutan lingkungan. Alokasi sumber daya yang tepat membutuhkan kerangka kerja yang objektif.
Untuk itu, studi ini mengadopsi metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang sistematis. Tujuannya adalah menentukan komoditas mana yang paling layak diprioritaskan di antara 11 alternatif (seperti Jagung, Padi, Cabai, dan Jeruk). Penilaian ini didasarkan pada kriteria kritis: Daya Dukung Lahan, Daya Tampung, dan Kesesuaian Lahan. Hasil dari analisis AHP akan menjadi dasar pengambilan keputusan yang transparan untuk memastikan investasi daerah efisien dan menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Metode AHP digunakan untuk menentukan bobot prioritas relatif dari serangkaian faktor berdasarkan perbandingan berpasangan (pairwise comparison) di tiga area utama: Daya Dukung Lahan, Daya Tampung Lahan, dan Kesesuaian Lahan. Tingkat kepentingan faktor diukur menggunakan skala AHP, dan konsistensi penilaian divalidasi dengan nilai Consistency Ratio (CR). Matriks perbandingan dianggap konsisten jika nilai CR < 0.10 (10%).
Hasil Analisis Komoditas Unggulan per Komoditas
SP
jagung
padi
kacang tanah
ubi jalar
ubi kayu
cabai
jambu mete
wijen
pisang
tembakau
jeruk
SP1
0.2057
0.2541
0.2593
0.2671
0.2588
0.2588
0.261
0.2597
0.2619
0.2742
0.2708
SP2
0.5056
0.2302
0.2627
0.2655
0.2786
0.2447
0.2752
0.2507
0.2499
0.2154
0.2214
SP3
0.2663
0.2555
0.2779
0.2874
0.29
0.2651
0.2938
0.2697
0.2688
0.2613
0.2647
SP4
0.2729
0.259
0.2751
0.2825
0.2826
0.2683
0.2835
0.2767
0.2692
0.2648
0.2658
SP5
0.2899
0.266
0.266
0.2692
0.2949
0.266
0.2917
0.2701
0.2604
0.2485
0.2784
SP6
0.2721
0.2582
0.2791
0.2695
0.2808
0.2692
0.2902
0.2751
0.2681
0.2677
0.2696
Analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) telah mengintegrasikan faktor biofisik (jenis tanah,
curah hujan), sifat fisik-kimia tanah (suhu udara, retensi hara), dan risiko lingkungan
(dominasi Risiko Banjir Bandang), menghasilkan peta prioritas komoditas yang spesifik lokasi.
Berdasarkan performa rata-rata yang konsisten dan adaptif di sebagian besar wilayah, komoditas
yang paling potensial untuk pengembangan jangka panjang dan investasi berkelanjutan secara
regional adalah:
Ubi Kayu (Bobot Rata-rata 0.2810) Jambu Mete (Bobot Rata-rata 0.2826) Ubi Jalar (Bobot Rata-rata 0.2735)
Rekomendasi final ini menegaskan bahwa strategi pengembangan perlu didasarkan pada kesesuaian
lahan yang spesifik, dengan fokus pada Ubi Kayu dan Jambu Mete sebagai motor peningkatan
kesejahteraan petani dan diversifikasi pangan daerah.
Informasi lengkap terkait kajian analisis daya dukung lahan dapat diunduh di bawah ini: